Depag Jember Lakukan Sosialisasi Pendewasaan Usia Pernikahan. - Kabare Jember

Breaking

Depag Jember Lakukan Sosialisasi Pendewasaan Usia Pernikahan.

Depag Jember Lakukan  Sosialisasi Pendewasaan Usia Pernikahan.

 


Jember,kabarejember.com ----- 

Pernikahan adalah ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan sebagai suami istri yang bertujuan untuk membentuk rumah tangga berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan dalam pernikahanseperti kesiapan usia, kesiapan mental, kesiapan finansial, kesiapansosial, kesiapanfisik, dan kesiapan lainnya karena pada prinsipnya pernikahan itu direncanakan hanya sekali seumur hidup. Oleh karena pernikahan akan dijalankan seumur hidup, maka butuh fisik dan mental yang matang. Seperti yang tertuang dalam Pasal 7 ayat (1) UU No.16/2019 tentang Pernikahan menyebutkan, “Pernikahan hanya diizinkan apabila Pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun.”


Dengan adanya aturan tersebut tentunya pemerintah telah memikirkan dampak yang terjadi ketika seseorang menikah di usia yang terlalu dini. Akan tetapi yang terjadi di lingkungan masyarakat kini masih banyak orang yang menikah di usia dini tanpa memiliki wawasan tentang pernikahan.


Pernikahan bisa dikategorikan sebagai pernikahan dini bila orang tersebut berumur dibawah 19 tahun atau dikatakan masih remaja. Dampak negatif pernikahan dini lebih dominan daripada dampak positifnya, karenabisa berdampak pada kesehatan ibu, kematian bayi, kurangnya gizi pada anak, dan banyaknya anak putus sekolah sehingga bertambahnya angka pengangguran dan menurunnya kualitas SDM di Indonesia.


Dimasa pandemi saat ini, tekanan ekonomi jangka panjang menuntut para orang tua untuk menikahkan anak perempuannya demi mengurangi jumlah anak yang harus ditanggung. Tentu pernikahan dini bukan solusi yang tepat untuk menurunkan tekanan ekonomi yang dihadapi suatu keluarga.


Sejumlah faktor yang melatarbelakangi pernikahan dini di masa pandemi Covid-19 dan banyaknya dampak negatif yang didapat, maka penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk menahan tingginya kasus pernikahan dini dengan berbagai cara.


Terdapat beberapa cara yang dapat mencegah terjadinya pernikahan dini seperti, memberdayakan anak dengan informasi dan keterampilan, mendidik dan memberikan wawasan kepada para orang tua untuk menciptakan lingkungan yang baik, meningkatkan kualitas pendidikan formal bagi anak, mengedukasi anak terkait kesehatan dan reproduksi, dan menawarkandukungan ekonomi kepada anak dan keluarganya.

Oleh karena itu, kita patut bersyukur atas penetapan minimal usia 19 tahun yang dibuat oleh pemerintah. 


Petugas Penyuluh agama fungsional Kecamatan Panti Jember Tutik Hidayati, S.Ag memaparkan,


"Pendewasaan Usia 

Pernikahan ( PUP ) ini merupakan Program dari kantor kementrian agama yang tujuannya memberikan pembinaan atau bimbingan kepada siswa siswi SMA/MA dalam rangka pencegahan  pernikahan usia dini, karena akhir-akhir ini banyak anak SMA/MA yang baru lulus dan bahkan ada sebelum lulus sudah menikah.Jadi kami kesini  intinya untuk memberi bimbingan kepada siswa dan siswi SMA guna mencegah hal itu, diantaranya memberikan informasi tentang Undang - undang yang baru yaitu UU No.16 tahun 2019 ( Kamis, 24/04/2022 )" Kilah Tutik


Lanjut Tutik Hidayati 

" Memang pernikahan itu mudah, namun tidak semudah itu karena harus diberi bekal baik materi maupun mental. Kalau istilah dalam pernikahan itu " duit sejuta " yang merupakan kepanjangan dari(  Do'a - usaha - Iman, taqwa, Setia - Jujur dan Tanggung jawab ).Jadi sebisa mungkin sebelum menikah harus terlebih dahulu menyiapkan duit sejutanya itu guna terciptanya kejarmonisan dalam berumah tangga." Pungkasnya

( Mulyono ) 


Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact